Selamat Datang di Web Blog Purna Praja STPDN/IPDN Kabupaten Ketapang

14 October 2008

MENGENAL TERJADINYA HAID DAN HAMIL

Pada saat setelah haid, permukaan rongga rahim yang
terkelupas ketika haid akan kembali ditumbuhi oleh
lapisan baru. Setiap selesai haid, lapisan rongga rahim itu
akan kembali dimatangkan atau disuburkan agar siap untuk
menjadi tempat kehamilan pada siklus haid bulan berikutnya.

Pembentukan lapisan permukaan rongga rahim yang baru
ini berlangsung secara bertahap berhari-hari hingga sampai
pada keadaan yang cocok untuk digunakan sebagai tempat
kehamilan.

Sekitar 2 minggu (14 hari) sebelum jadwal haid bulan
berikutnya, lapisan permukaan rongga rahim ini sudah
dalam
keadaan subur dan siap untuk menerima calon janin.

Bersamaan dengan matangnya rongga rahim, yaitu sekitar
2
minggu sebelum jadwal haid berikutnya, normalnya akan
ada
sebuah sel telur (ovum) matang yang keluar dari
kandung
telur (ovarium) yang siap untuk dibuahi oleh sperma.
Keluarnya sebuah sel telur matang dari kandung telur
ini
dikenal dengan istilah Ovulasi.

Jadi, sekitar 14 hari sebelum haid itu normalnya akan
selalu terjadi dua peristiwa kematangan, yaitu
matangnya
rongga rahim sehingga siap untuk menjadi tempat
kehamilan,
serta peristiwa matangnya sebuah sel telur yang siap
untuk
dibuahi. Kedua peristiwa ini berlangsung secara
bersamaan,
dan akan terus terjadi berulang kali di setiap siklus
bulanan haid selama lebih dari 30 tahun usia subur
wanita
hingga menjelang menopause, kecuali bila terjadi
kehamilan
atau ada faktor penghambat lainnya.

Hari terjadinya ovulasi itu memang dihitung bukan dari
hari
pertama haid di bulan yang bersangkutan, tapi dihitung
dari
hari pertama haid bulan berikutnya. Praktisnya untuk
menghitung tanggal perkiraan ovulasi adalah dengan
cara
mengurangi 14 hari dari lamanya siklus haid. Hal ini
karena
haid itu umumnya terjadi pada 14 hari setelah ovulasi.

Jadi misalnya bila siklus haid bulanan seorang wanita
adalah 30 hari, maka hari subur (ovulasi) akan terjadi
sekitar hari ke-16 yaitu dari perhitungan 30 dikurangi
14.
Sebagai catatan, hari pertama haid di bulan tersebut
dinyatakan sebagai hari ke-1. Contoh lain, bila siklus
haidnya 35 hari, maka hari suburnya adalah hari ke-21
yaitu
dari 35 dikurangi 14. Demikian juga untuk siklus haid
28
hari maka ovulasi akan terjadi sekitar hari ke-14, dan
seterusnya.

Patokan jarak 14 hari dari haid bulan berikutnya untuk
masa
subur sel telur ini, memang berlaku untuk semua wanita
yang
normal. Berapapun jarak siklus haid bulanan seorang
wanita,
baik yang jarak siklusnya 22 hari, 25 hari, 28 hari,
35
hari, dll., maka keluarnya sel telur matang atau
ovulasi
atau hari subur ini terjadi pada jarak waktu yang
sama,
yaitu sekitar 14 hari (2 minggu) sebelum hari pertama
haid
bulan berikutnya.

(Grafik Siklus Haid, silahkan buka attachment:
SKLSHAID.GIF)

Dalam setiap bulan atau dalam setiap satu siklus haid,
normalnya hanya ada sebuah sel telur saja yang matang,
dan
kemudian dikeluarkan oleh kandung telur ke mulut
saluran
yang menuju rongga rahim. Namun sel telur matang ini
setelah keluar dari kandung telur, ternyata masa
suburnya
hanya berlangsung sebentar saja, karena sel telur
matang
ini hanya mampu bertahan hidup beberapa jam saja.

Bila pada saat ovulasi atau tepat pada hari ketika
keluarnya sel telur matang ini dilakukan hubungan
suami
istri, dan sel sperma berhasil membuahi sel telur
matang
ini, maka akan terjadi kehamilan, asalkan tidak
terdapat
faktor kelainan atau penghambat. Hal ini karena dalam
setiap satu siklus bulanan, masa subur wanita hanya
terjadi
pada satu hari ketika ovulasi saja. Adapun sperma,
masa
suburnya itu terjadi setiap hari, sehingga setiap saat
keluar ketika hubungan badan, sel sperma normalnya
selalu
dalam keadaan subur.

Oleh karena itu maka hanya hubungan badan yang
dilakukan di
sekitar ovulasi saja yang bisa menyebabkan kehamilan,
yaitu
sekitar 14 hari sebelum jadwal haid berikutnya.
Sedangkan
hubungan suami istri yang dilakukan di luar ovulasi
atau di
luar masa subur wanita maka tidak akan menyebabkan
kehamilan, karena di luar masa subur tersebut tidak
akan
ada sel telur matang yang bisa dibuahi.

Dengan demikian bila misalnya siklus haid bulanan
seorang
wanita adalah 30 hari, maka kehamilan bisa terjadi
kalau
hubungan suami istri dilakukan sekitar hari ke-16
siklus
haidnya (30 dikurangi 14). Contoh lain, pada wanita
yang
memiliki siklus haid 35 hari maka hubungan badan yang
bisa
menyebabkan hamil adalah kalau dilakukan sekitar hari
ke-21
sesudah haid sebelumnya. Demikian juga untuk wanita
yang
siklus haidnya 28 hari maka bila dilakukan hubungan
suami
istri sekitar hari ke-14 maka bisa hamil juga, dst.

Perhitungan masa subur wanita seperti di atas ini
tentunya
akan mudah dilakukan bila siklus haidnya teratur
setiap
bulan. Sedangkan pada wanita yang datang haidnya tidak
teratur tentu saja akan sulit menerapkannya. Namun
sekarang
sudah ada alat test kesuburan atau ovutest yang juga
sudah
dijual bebas di pasaran. Melalui alat ini masa subur
setiap
wanita bisa diketahui dengan mudah, termasuk pada
wanita
yang siklus haidnya tidak teratur. Alat ini ada yang
menggunakan metoda pemeriksaan air kemih dan ada juga
yang
melalui pemeriksaan air ludah.

Pada pemeriksaan air kemih, prinsipnya adalah
mendeteksi
kadar hormon perangsang ovulasi yaitu Luteinizing
Hormon (
LH) yang dihasilkan tubuh wanita. Sekitar 1 - 2 hari
sebelum ovulasi, hormon LH ini selalu melonjak hingga
mencapai kadar tertinggi, kemudian turun lagi setelah
ovulasi. Sedangkan pada alat yang menggunakan
pemeriksaan
air ludah, prinsipnya adalah mendeteksi kadar
elektrolit
yang ada di dalam air ludah yang selalu meningkat pada
wanita subur di sekitar 3 hari sebelum ovulasi, dan
kemudian menurun kembali sekitar 3 hari setelah
ovulasi.

Pada beberapa hari sebelum ovulasi sampai beberapa
hari
sesudah ovulasi tersebut yaitu ketika LH maupun
elektrolit
meningkat, pemeriksaan ovutest akan menunjukkan hasil
yang
positip. Hari-hari yang positip ini disebut juga
"jendela
kesuburan".

Pemakaian alat ovutest ini bisa dilakukan setiap
bangun
pagi, setelah selesai haid, setiap hari dalam beberapa
bulan pertama hingga bisa mempelajari grafik siklus
normal
bulanannya dan saat-saat masa suburnya. Melalui
"jendela
kesuburan" dari hasil ovutest ini memang bisa
diketahui
secara obyektif masa subur setiap wanita, termasuk
bagi
wanita yang haidnya tidak teratur. Tapi bagaimanapun
juga
test ini tidak bisa mendeteksi secara pasti tentang
kapan,
hari, jam dan menit waktu terjadinya ovulasi. Namun
yang
pasti bahwa lonjakan kadar LH yang selalu terjadi
sekitar 1
- 2 hari sebelum ovulasi, atau pun lonjakan elektrolit
yang
terjadi sekitar 3 hari sebelum ovulasi, bisa dideteksi
oleh
alat ovutest.

Bagi suami istri yang menginginkan punya anak,
hubungan
badan di hari-hari awal masa "jendela kesuburan" ini
akan
memberikan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan
kehamilan. Sebaliknya, masa "jendela kesuburan" ini
bisa
juga digunakan sebagai patokan untuk menghindarkan
hubungan
badan bagi suami istri yang tidak menghendaki
kehamilan (
metoda KB alami/ pantang berkala), meskipun
efektivitas
cara ini tidak bisa dijamin berhasil 100 % dalam
mencegah
kehamilan.

Dalam keadaan normal, sehari sebelum terjadinya
ovulasi
atau bersamaan dengan mulai melonjaknya hormon LH,
suhu
tubuh biasanya meningkat sekitar 0,5 derajat celcius
dari
sebelumnya. Selanjutnya suhu setinggi ini akan tetap
bertahan hingga datangnya haid berikutnya. Begitu
terjadi
haid, suhu tubuh akan turun lagi 0,5 derajat celcius
kembali ke suhu sebelum ovulasi. Kemudian sekitar
sehari
menjelang ovulasi berikutnya suhu naik lagi, dan terus
naik
turun di setiap menjelang ovulasi dan ketika haid,
yang
terjadi secara periodik dalam setiap siklus bulanan
haid.

Pengukuran suhu yang terbaik adalah langsung ketika
bangun
pagi, sebelum bangkit dari tempat tidur. Bila hal ini
dilakukan rutin setiap hari sejak haid kering, maka
pada
hari kedua setelah terjadinya kenaikan suhu bisa
dijadikan
sebagai patokan perkiraan hari subur atau ovulasi.
Pada
saat itulah, bila dilakukan hubungan suami istri, akan
mendapatkan peluang yang besar untuk terjadi
kehamilan.

Sekarang malah di pasaran sudah ada termometer digital
berprogram komputer yang dirancang khusus untuk test
kesuburan. Bila alat ini dipakai oleh wanita setiap
hari,
maka menjelang masa subur atau ovulasi, dari alat ini
akan
keluar sinyal indikator dan suara alarm tanda masa
subur
yang akan menyala secara otomatis.

Bahkan akhir-akhir ini ada juga jam tangan wanita yang
dilengkapi dengan termometer khusus, untuk mendeteksi
masa
subur. Sehingga begitu datang masa subur maka secara
otomatis akan ada tanda peringatan dari jam tangan
yang
dipakai tersebut. Namun tentu saja bila tubuh sedang
menderita demam, pendeteksian kesuburan melalui suhu
ini
akan sulit diketahui dengan akurat.

No comments:

Post a Comment

Tulis komentar anda disini

Total pageviews bulan ini