Selamat Datang di Web Blog Purna Praja STPDN/IPDN Kabupaten Ketapang
Showing posts with label Profil Daerah. Show all posts
Showing posts with label Profil Daerah. Show all posts

18 October 2008

Profil Kabupaten Ketapang

SEJARAH

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, sejak tahun 1936 Kabupaten Ketapang adalah salah satu daerah Afdeling yang merupakan bagian dari Keresidenan Kalimantan Barat (Residentis Western Afdeling van Borneo) dengan pusat pemerintahannya di Pontianak. Kabupaten Ketapang ketika

itu dibagi menjadi tiga Onder Afdeling, yaitu:

  1. Onder Afdeling Sukadana, berkedudukan di Sukadana

  2. Onder Afdeling Matan Hilir, berkedudukan di Ketapang

  3. Onder Afdeling Matan Hulu, berkedudukan di Nanga Tayap

Masing-masing Onder Afdeling dipimpin oleh seorang Wedana.
Tiap-tiap Onderafdeling dibagi lagi menjadi Onder Distrik, yaitu:

  1. Onder Afdeling Sukadana terdiri dari Onder Distrik Sukadana, Simpang Hilir dan Simpang Hulu

  2. Onder Afdeling Matan Hilir terdiri dari Onder Distrik Matan Hilir dan Kendawangan

  3. Onder Afdeling Matan Hulu terdiri dari Onder Distrik Sandai, Nanga Tayap, Tumbang Titi dan Marau
    Masing-masing Onder Distrik dipimpin oleh seorang Asisten Wedana.

Afdeling Ketapang terdiri atas tiga kerajaan, yaitu:

  1. Kerajaan Matan, yang membawahi Onder Afdeling Matan Hilir dan Matan Hulu

  2. Kerajaan Sukadana, yang membawahi Onder Distrik Sukadana

  3. Kerajaan Simpang, yang membawahi Onder Distrik Simpang Hilir dan Simpang Hulu

Masing-masing kerajaan dipimpin oleh seorang Panembahan. Sampai tahun 1942, kerajaan Matan dipimpin oleh Gusti Muhammad Saunan, kerajaan Sukadana dipimpin oleh Tengku Betung dan kerajaan Simpang dipimpin oleh Gusti Mesir

Masa Pendudukan Jepang. Masa pemerintahan Hindia Belanda berakhir dengan datangnya bala tentara Jepang pada tahun 1942. Dalam masa pendudukan tentara Jepang, Kabupaten Ketapang masih tetap dalam status Afdeling, hanya saja pimpinan langsung diambil alih oleh Jepang.

Masa Pendudukan NICA. Pemerintahan pendudukan Jepang yang berakhir kekuasaannya pada tahun 1945 diganti oleh Pemerintahan Tentara Belanda (NICA). Pada masa ini bentuk pemerintahan yang ada sebelumnya masih diteruskan. Kabupaten Ketapang berstatus Afdeling yang disempurnakan dengan Stard Blood 1948 no. 58 dengan pengakuan adanya Pemerintahan Swapraja. Pada waktu itu Kabupaten Ketapng terbagi menjadi tiga pemerintahan swapraja, yaitu Sukadana, Simpang dan Matan. Kemudian semua daerah swapraja yang ada digabungkan menjadi sebuah Federasi.

Pembentukan Kabupaten Sintang. Undang-undang nomor 25 tahun 1956 menetapkan status Kabupaten Ketapang sebagian bagian Daerah Otonom Propinsi Kalimantan Barat yang dipimpin oleh seorang Bupati.

GEOGRAFI

Kabupaten Ketapang merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Propinsi Kalimantan Barat, terletak di antara garis 0º 19’00” - 3º 05’ 00” Lintang Selatan dan 108º 42’ 00” - 111º 16’ 00” Bujur Timur.

Dibandingkan Kabupaten lain di Kalimantan Barat, Kabupaten Ketapang merupakan kabupaten terluas, memiliki pantai yang memanjang dari selatan ke utara dan sebagian pantai, yang merupakan muara sungai, berupa rawa - rawa terbentang mulai dari Kecamatan Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, dan Kendawangan, Sedangkan daerah hulu umumnya berupa daratan yang berbukit - bukit dan diantaranya masih merupakan hutan.

Sungai terpanjang di Kabupaten Ketapang adalah sungai Pawan yang menghubungkan Kota Ketapang dengan Kecamatan Sandai, Nanga Tayap dan Sungai Laur serta merupakan urat nadi penghubung kegiatan ekonomi masyarakat dari desa dengan kecamatan dan kabupaten. Adapun batas-batas wilayah administrasi Kabupaten Ketapang adalah sebagai berikut:

  • Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Sanggau.
  • Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Kayong Utara dan Selat Karimata.
  • Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Laut Jawa.
  • Sebelah Timur : Berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Sintang.

Daerah Kabupaten ketapang mempunyai luas wilayah 35.809 Km² (± 3.580.900 Ha) yang terdiri dari 33.209 Km² wilayah daratan dan 2.600 Km² wilayah perairan serta memiliki 20 Kecamatan yaitu Kecamatan Matan Hilir Utara, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kecamatan Kendawangan, Kecamatan Tumbang Titi, Kecamatan Marau, Kecamatan Manis Mata, Kecamatan Jelai Hulu, Kecamatan Sandai, Kecamatan Nanga Tayap, Kecamatan Sei Laur Kecamatan Simpang Hulu, Kecamatan Simpang Dua, Kecamatan Hulu Sungai, Kecamatan Air Upas, Kecamatan Singkup, Kecamatan Sungai Melayu Rayak dan Kecamatan Pemahan.

Topografi

Daerah pantai memanjang dari utara ke selatan dan daerah aliran sungai merupakan dataran berawa-rawa, yakni mulai dari kecamatan Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, dan Kendawangan. Sedangkan wilayah perhuluan umumnya berupa daerah berbukit-bukit. Sungai terpanjang di Kabupaten Ketapang adalah sungai Pawan. Juga terdapat sungai-sungai besar lainnya, yakni sungai Merawan/Matan, Kualan, Pesaguan, Kendawangan dan Jelai.

Geologi

Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Ketapang berupa tanah podsolik merah kuning, litosol/regosol, latosol, andosol dan organosal. Tanah podsolik merah kuning terdapat di daerah hulu bagian tengah, memanjang dari utara ke selatan, meliputi kecamatan Tumbang Titi, Jelai Hulu, Marau, Simpang Hulu, sandau, Nanga Tayap, Sungai Laur dan sebagian kecamatan Manis Mata. Tanah litosol/rigosol terdapat di daerah hulu agak ke timur, sebagian besar terdapat di kecamatan Sungai Laur, Simpang Hulu, Sandai dan Nanga Tayap. Tanah latosol terdapat di kecamatan Sandai dan Sungai Laur. Jenis tanah andosol hanya terdapat di kecamatan Sandai bagian timur. Tanah organosal sebagian besar terdapat di daerah pantai, memanjang dari utara ke selatan, yaitu di kecamatan Simpang Hilir, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan dan Manis Mata.

I k l i m

Kabupaten Ketapang ber iklim tropis dengan suhu rata - rata 23,70° C - 26,70° C dan suhu pada siang hari mencapai 30,80° C serta memiliki curah hujan rata - rata 3696,1 mm / th dengan curah hujan rata - rata per tahun sebanyak 214 kali, sedangkan kecepatan angin adalah 3,1 knot dan merupakan yang tertinggi di Kalimantan Barat.



Sekilas Kalimantan Barat

Pada tahun 1936, Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah keresidenan yaitu bagian dari Govermenten van Borneo (GB) dengan pusat pemerintahan di Banjarmasin, Dua tahun kemudian GB ini menjadi dua residensi dimana salah satunya adalah Residentie Westerfdeling van Borneo dengan pusat pemerintahan di Pontianak.


Pada tahun 1942 - 1945, Jepang menduduki Kalimantan Barat serta mengakhiri masa pemerintahan Hindia Belanda. Dalam masa pendudukan Jepang ini , masih tetap dalam status keresidenan yang residennya berpusat di Banjarmasin, tapi merupakan bagian dari Borneo Minseibu Cokan.

Dimasa perjuangan kemerdekaan, tokoh - tokoh Kalimantan Barat yang gigih menentang penjajahan Melanda maupun Jepang adalah : Gusti Sulung Lelanang, Gusti Situt Mahmud, AR Jeranding , HR A. Rahman DLl.

Setelah kekuasaan Jepang berakhir ternyata Kalimantan Barat Belum Langsung menikmati kemerdekaan karena dikuasai oleh kolonialis, khususnya pemerintahan Belanda ( NICA) pada tahun 1945. Status keresidenan Kalimantan Barat segera disempurnakan dengan pengakuan adanya 12 pemerintahan Swapraja dan Neo Swapraja , yang tidak lama kemudian digabung menjadi sebuah daerah federasi.

Daerah Kalimantan Barat oleh NICA diakui sebagai Daerah Istimewa Kalimantan Barat ( DIKB) pada tahun 1948. Tetapi DIKB tidak bertahan lama yang kareanadanya desakan dari rakyat, maka pada tahun 1949 DIKB dan kepala daerah menyerahkan wewenang kepada residen kalimantan Barat di Pontianak Sebagai wakil Pemerintahan Pusat Republik Indonesia Serikat (RIS).

Selanjutnya Menteri Dalam Negeri RIS mengukuhkan wewenang residen yang menjalankan pemerintahan di Kalimantan Barat dan pemerintahannya kembali kepada status keresidenan administrasi yang merupakan bagian dari Propinsi Kalimantan barat yang berpusat di banjarmasin. Kondisi ini berlangsung hingga tahun 1956.

Atas dasar Undang-undang Nomor 25 tahun 1956, Kalimantan Barat mendapatkan status sebagai daerah Propinsi Otonom dengan ibukota Pontianak. Kedudukuan sebagai daerah otonom ini berlaku sejak tanggal 1 Januari 1957. Selanjutnya tanggal ini dianggap sebagai hari jadi Pemerintah Kalimantan Barat. Namun Mulai Tahun 2002 Hari jadi Pemerintah Kalimantan Barat diperingati setiap tanggal 28 Januari. Sejak ditetapkannya sebagai Daerah Propinsi Otonom yaitu pada tanggal 1 Januari 1957 sampai saat ini, Kalimantan Barat telah dipompin oleh delapan pejabat Gubernur. Dewasa ini daerah pemerintah Kalimantan Barat sejak diberlakukannya otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang nomor 22 Tahun 1999.


L e t a k

Provinsi Kalimantan Barat terletak tepat di garis khatulistiwa (Kota Pontianak) di atas garis 2° 08' LU dan 2° 05' LS serta di antara 108° BT dan 114°10' BT pada peta bumi.

Provinsi ini berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak (Malaysia Timur) dan merupakan satu-satunya Provinsi yang memiliki akses langsung jalan darat via poros jalan antar negara Pontianak-Entikong-Kuching yang memiliki jarak tempuh sekitar 6-8 jam (400 km), dengan kendaraan roda empat.


Batas Wilayah

Utara


:


Sarawak (Malaysia Timur), Kabupaten Sambas, Sanggau, Bengkayang, Sintang dan Ketapang

Selatan


:


Laut Jawa

Timur


:


Kalteng dan Kaltim

Barat


:


Laut Natuna dan Selat Karimata


Topografi

Dilihat dari tekstur tanahnya maka sebagian besar daerah Kalbar terdiri dari tanah rawa bercampur gambut, jenis tanah PMK (podsolit merah kuning), yang meliputi areal sekitar 10,5 juta hektar atau 17,28 persen dari luas daerah yang 14,7 juta hektar. Berikutnya tanah OGH (orgosol, gley dan humus ) dan tanah Aluvial sekitar 2,0 juta hektar atau 10,29 persen yang terhampar di seluruh kabupaten, namun sebagian besar terdapat di kabupaten daerah pantai.

Daerah Kalbar merupakan dataran rendah dengan ketinggian sekitar 0-200 m di atas permukaan laut. Daerah pantai terdapat di wilayah barat dan selatan , panjang pantai 1.165 km. Wilayah pantai disamping merupakan pasir dan batu juga sebagian terdiri dari endapan lumpur dan berawa. Jumlah sungai yang dapat dilayari : 26 buah dan panjang keseluruhan 3.234 km dengan bobot muatan antara 10 - 40 ton. Sungai yang terpanjang dilayari adalah Sungai Kapuas (1.086 km).

Jalur sungai dapat menghubungkan beberapa Ibukota Kabupaten dan Kecamatan Wilayah yang masih mengandalkan jalur sungai yaitu daerah pedalaman, khususnya di Kabupaten Sintang, Kapuas Hulu dan Ketapang. Jalur angkutan laut terdapat di wilayah Kodya Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sambas dan Kabupaten Ketapang. Kapal penumpang dan barang menghubungkan Pontianak dengan Jakarta, Semarang, Surabaya dan daerah lainnya.

Jalur perhubungan udara dilayani dengan pesawat DAS menghubungkan Pontianak dengan Kabupaten Sintang, Kapuas Hulu dan Ketapang.

Pontianak - Jakarta dilayani setiap hari dengan pesawat Garuda, Merpati, Pelita, Batavia, Bouraq, Jatayu dan Citilink.

Pontianak - Balikpapan, Batam dan Medan dilayani Merpati dan Jatau (Seminggu tiga kali).

Pontianak ke luar negeri (Serawak dan Kuching) dilayani dengan pesawat Merpati dan MAS.


Hidrologi

Kalimantan Barat dijuluki sebagai Provinsi "seribu sungai". Hal ini karena di Kalbar terdapat Sungai Kapuas yang memiliki panjang sekitar 1.143 km dan merupakan sungai terpanjang di Indonesia yang menjelajah 65% wilayah Kalimantan Barat.

Meskipun tidak memiliki banyak danau, namun di Kalbar terdapat beberapa danau yang cukup potensial seperti Danau Sentarum yang memiliki luas sekitar 117.500 Ha dan Danau Luar 1 dengan luas 5.400 Ha yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu.

Kalbar juga tidak memiliki banyak gunung.


I k l i m

1.


Beriklim tropis dengan suhu antara 22°C - 32°C dengan kelembaban tinggi.

2.


Keadaan cuaca pada umumnya berawan dan kabut terutama pada bulan Februari sampai dengan Agustus.

3.


Curah Hujan berkisar antara 3.250 Mm s/d 4.134 Mm, musim penghujan terjadi pada bulan September sampai Desember dan hampir setiap tahun terjadi banjir di daerah pedalaman.


Demografi

1.

Perkembangan Jumlah Penduduk
*

Jumlah penduduk tahun 2003 tercatat 3.958.448 jiwa dengan pertumbuhan 2,65%.
*

Kepadatan penduduk 27 orang / km2.
2.

Komposisi penduduk
*

Berdasarkan Suku Bangsa

a.


Dayak


:

41 %

b.


Melayu


:

39 %

c.


Cina


:

12 %

d.


Bugis


:

5 %

e.


Lain-Lain


:

3 %
*

Berdasarkan agama dan kepercayaan

a.


Islam


:

52,87 %

b.


Katolik


:

20,59 %

c.


Protestan


:

8,69 %

d.


Budha


:

2,26 %

e.


Hindu


:

0,55 %

f.


Kepercayaan


:

15,04 %
*

Berdasarkan status sosial

a.


Tani


:

17,89 %

b.


Nelayan


:

16,72 %

c.


Pedagang


:

11,39 %

d.


Buruh


:

3,77 %

e.


Pegawai Negeri


:

4,78 %

f.


Swasta


:

16,93%

g.


Pelajar


:

23,34%

h.


Lain-Lain


:

5,18 %

Visi

“Kalbar Bersatu, mandiri, ramah lingkungan dan berdaya saing global menuju masyarakat yang aman dan sejahtera lahir-bathin dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia“

Misi

*

Percepatan Pembangunan
*

Stabilitas dan Penegakan Hukum Yang Berkeadilan
*

Kemandirian Daerah
*

Pengembangan SDM Yang Berdaya Saing Global
*

Lingkungan Hidup
*

Kesejahteraan Materiil dan Spiritual.


Makna Lambang

1.

Bersudut lima, dimaksudkan sebagai suatu negara kesatuan yang bersendikan Pancasila
2.

Kata “Akcaya” yang berarti “Tak kunjung binasa”atau dengan keuletan yang pantang menyerah
3.

Perisai mandau dan keris menggambarkan pusaka dan kebudayaan warisan leluhur masyarakat daerah Kalimantan Barat
4.

Garis melintang di tengah-tengah melukiskan bentangan khatulistiwa tepat pada garis equator
5.

Kobaran api dalam tungku menggambarkan semangat perjuangan yang tak kunjung padam
6.

Padi dan kapas bersimpul pita dengan sudut empat merupakan lambang kemakmuran yang dijiwai oleh semangat catur karsa (empat kehendak) yaitu : kesungguhan, kejujuran, gotong royong, dan kekeluargaan. Jumlah unsur kapas (17), nyala api (8), padi (45), melukiskan lahirnya Republik Indonesia 17 agustus 1945.


Sosial dan Budaya

Jumlah penduduk terbanyak adalah Kalbar yaitu 34 % dari total penduduk seluruh Kalimantan, yaitu sebanyak 3.722.172 jiwa


Ekonomi

1.

Pertumbuhan Ekonomi 3,23%
2.

Pertumbuhan Sektor Pertanian 2,30%
3.

Pertumbuhan Sektor Industri 2,40%
4.

Pertumbuhan Sektor Perdagangan 2,44%
5.

Pertumbuhan Sektor Keuangan 4,71%
6.

Tingkat Pengangguran Terbuka 4,61%
7.

Tingkat Pengangguran Terdididk (SLTA +) 9,48%
8.

Jumlah Penduduk Miskin 14,79%
9.

Jumlah Penduduk Miskin 14,79%
10.

PDRB Perkapita Rp. 5.585.035
11.

PDRB Sektor Pertanian Rp. 5.071,92 Milyard (26% dari Total PDRB Kalbar)
*

Tanaman Pangan Rp. 1.463,70 M
*

Peternakan Rp. 490,83
*

Perikanan Rp. 495,70 M
12.

PDRB Sektor Kehutanan Rp. 1.147,70 M
13.

PDRB Sektor Perkebunan Rp. 1.473,99 M
14.

Human Development Index 65.8
15.

Eksport US $ 371 juta
16.

Perkembangan Aktiva Perbankan Rp. 8,9 Trilyun


Potensi Sumber Daya Manusia

Angkatan Kerja Sektor Pertanian 1.778.745 Orang

1.

Kelompok Tani Tanaman Pangan 7.322 Kelompok terdiri dari :
*

Kelas Pemula 3.704 Kelompok
*

Kelas Lanjut 2.852 Kelompok
*

Kelas Madya 633 Kelompok
*

Kelas Utama 133 Kelompok
2.

Kelompok Tani Tanaman Pangan 6.659 Kelompok terdiri dari :
*

Kelas Pemula 2.386 Kelompok
*

Kelas Lanjut 2.655 Kelompok
*

Kelas Utama 98 Kelompok
3.

Kelompok Tani Ternak 580 Kelompok terdiri dari :
*

Kelas Pemula 342 Kelompok
*

Kelas Lanjut 128 Kelompok
*

Kelas Madya 79 Kelompok
*

Kelas Utama 24 Kelompok


Jeruk

Jeruk Siam merupakan komoditas unggulan dan komoditi primadona Kalbar yang dikenal dengan sebutan “ Jeruk Pontianak”, kendatipun sebenarnya berasal dari Kec. Tebas Kab. Sambas. Sifat khas jeruk ini yaitu manis rasanya, tipis kulitnya, dan licin mengkilat.

Jeruk Siam ada di Kalbar sejak Tahun 1936 tepatnya di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas. Bibitnya berasal dari Negara Cina. Hingga awal tahun 1950 jeruk siam telah berhasil dibudidayakan hinggan mencapai 1.000 ha. Tahun 1960 sebagaian besar pohon jeruk ini ditebangai karena terserang penyakit.

Pada tahun 1979 perkebunan jeruk siam dikembangkan kembali dan sampai tahun 1996 mengalami masa kejayaan yaitu mencapai 10.000 ha lebih dengan produksi 26.000 ton per tahun. Setelah Tahun 1996 jeruk siam anjlok sebagai akibat dari monopoli sistem tata neiaga sehingga harga ditingkat petani jatuh dan Total Revenue (TR) tidak cukup membiayai Total Cost (TC); akibatnya petani membiarkan pohon jeruk merangas mati karena tidak terpelihara dan diperparah akibat serangan hama penyakit.

1.

Lokasi

Luas potensi areal pengembangan KSP Jeruk saat ini antara 10.000 – 20.0000 Ha, terdapat di Kab. Sambas dan terletak dalam satu hamparan dataran rendah yang luas pada beberapa Desa di Kec./ Pemangkat, Tebas, Sambas, dan Teluk Keramat.

Berdasarkan rencana pengembangan produk unggulan daerah Kab. Sambas, masih tersedia pengembangan komoditas jeruk seluas 7.844 Ha dan masih memungkinkan untuk diperluas, karena ketersediaan area pertanian lahan kering di Kalbar mencapai seluas 200.000 Ha.

No.


Kecamatan


Potensi (Ha)


Diusahakan (Ha)


Tersedia (Ha)

1.


Pemangkat


2.700


650


2.050

2.


Tebas


4.600


1.185


3.415

3.


Sambas


400


296


104

4.


Teluk Keramat


2.300


25


2.275

5.


Selakau


-


35


-



Jumlah


10.000


2.191


7.844

2.

Keunggulan
*

Popularitasnya sudah cukup terkenal baik dalam maupun luar negeri (khususnya Asean)
*

Masa produktifitas 15-20 Tahun
*

Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 3,59 (tertinggi dibanding komoditas lainnya)
*

Harga Pasaran stabil dan cenderung terus meningkat
3.

Sarana Penunjang
*

Stabilitas keamanan terjamin
*

Peraturan dan Regulasi tentang perizinan sangat mudah
*

Transportasi darat lancar dan dapat dilalui kendaraan roda empat (Jalan Aspal dari Kota Pontianak ke lokasi perkebunan) jarak tempuh 196 km
*

Pelabuhan laut tersedia yaitu Pelabuhan Sintete terletak dikawasan sentra produksi serta pelabuhan lainnya di Kota Pontianak
*

Lembaga Keuangan (Perbankan) tersedia hingga ditingkat Kecamatan
*

Lahan mempunyai surat tanah yang jelas (bersertifikat)
*

Tersedia tenaga kerja yang profesional
*

Telekomunikasi, listrik dan air bersih lancar
*

Harga barang-barang kebutuhan relatif terjangkau
*

Di ibukota Kabupaten (Sambas) tersedia Hotel, dan restoran yang cukup representatif
*

Tersedia Koperasi Unit Desa (KUD), Kelompok Tani yang menyebar disetiap Desa

Lidah Buaya (Aloevera)

Lidah Buaya (Aloe barbadensis Milleer) sudah dikenal sejak ribuan tahun silam, digunakan sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, dan untuk perawatan kulit. Tanaman bermanfaat sebagai bahan baku industri farmasi dan kosmetika, serta sebagai bahan makanan dan minuman kesehatan.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan dibidang agro industri semakin luas dan beraneka ragam produk yang dihasilkan dalam rangka peningkatan dan pengembangan produksi dan industrialisasi pertanian.

Sektor agroindustri kini menjadi primadona yang diharapkan dapat membantu meningkatkan perekonomian daerah, nasional dan devisa negara.

Dewasa ini produk berbahan baku alami semakin disukai oleh masyarakat bahkan luar negeri pengguna produk berbahan baku alami telah menjadi trend masyarakat luas yang terkenal dengan istilah “back to nature” yang berarti kemblai kealam. Demikian pula halnya dengan tanaman lidah buaya (Aloevera) yang selama ini hanya dikenal sebagai shampo untuk perawatan rambut dan tanaman hias. Pada masa kini penggunaannya sudah semakin luas, baik dalam industri kosmetik maupun farmasi.

Lidah buaya merupakan satu dari 10 jenis tanaman terlaris di dunia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebgai tanaman obat dan bahan baku industri. Dinegara maju seperti Amerika, Australia, dan Eropa lidah buaya telah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman kesehatan. Berdasar hasil penelitian tanaman ini kaya akan kandungan zat-zat seperti enzim, asam amino, mineral vitamin, polysakarida dan komponen lain yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Tanaman ini memiliki banyak khasiat seperti anti inflamasi, anti jamur, anti bakteri dan membantu proses regenerasi sel. Disamping menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes, mengontrol tekanan darah, menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan sebagai nutrisi pendukung penyakit kanker, penderita HIV/AIDS (Wahyono E dan Kusnandar, 2002).

1.

Lokasi

Di Kota Pontianak (Siantan) dan Kabupaten pontianak (Rasau Jaya) tanaman liidah buaya tumbuh dengan sangat baik pada lahan gambut. Potensi lahan gambut mencapai 1.100 ha (10,20% dari luas wilayah), dan lahan gambut di Kab. Pontianak mencapai 450.000 hektar (24,76% dari luas wilayah), maka pengembangan komoditas ini masih sangat potensial.

2.

Keunggulan
*

Merupakan satu dari 10 jenis tanaman terlaris di dunia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industri
*

Berdasar hasil penelitian tanaman ini kaya akan kandungan zat-zat seperti enzim, asam amino, mineral vitamin, polysakarida dan komponen lain yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.
*

Tanaman ini memiliki banyak khasiat seperti anti inflamasi, anti jamur, anti bakteri dan membantu proses regenerasi sel. Disamping menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes, mengontrol tekanan darah, menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan sebagai nutrisi pendukung penyakit kanker, penderita HIV/AIDS (Wahyono E dan Kusnandar, 2002).
*

Permintaan pasar lokal dan ekspor cukup tinggi sekitar 20.000 ton per/minggu
*

Harga Pasaran stabil dan cenderung terus meningkat
*

Minumannya sangat diminati masyarakat|

3.

Sarana Penunjang
*

Stabilitas keamanan terjamin
*

Peraturan dan Regulasi tentang perizinan sangat mudah
*

Lokasi centra produksi berada di Kota Pontianak dan Kab. Pontianak
*

Transportasi darat, laut dan udara tidak mengalami kendala
*

Lembaga Keuangan (Perbankan) tersedia
*

Telekomunikasi, listrik dan air bersih lancar
*

Lahan mempunyai surat tanah yang jelas (bersertifikat)
*

Tersedia tenaga kerja yang profesional
*

Hotel dan restoran tersedia mulai dari kelas eksekutif hingga ekonomis

Kelapa Sawit

Pembangunan perkebunan kelapa sawit di Kalbar masih terbuka lebar. Tersedia lahan seluas 1,4 juta ha. Hingga tahun 2000 tercatat 33 buah perusahaan yang telah beroperasi dengan total realisasi pemanfaatan lahan mencapai 200.000 ha, yang terdiri 9 Perusahaan PIR Trans, 6 PIR-KPAA, 10 Perkebunan besar swasta nasional, 4 Perusahaan perkebunan besar swasta asing, 3 BUMN dan 1 PIR BUMN. Selain itu terdapat 15 perusahaan yang telah mendapat izin prinsip, dan 13 perusahaan telah mendapat informasi lahan, namun belum mendapat izin prinsip.

1.

Lokasi
*

Kab. Sanggau (Belitang Hulu, belitang hilir, Parindu, Sanggau Kapuas, Sekadau Hilir, Sekadau hulu, Tayan Hulu, Meliau, Beduai, Kembayan, Bonti, tayan Hilir, Balai, Mukok, Nanga Belitang, Nanga Mahap dan Nanga Taman
*

Kab. Bengkayang (Kec. Ledo dan Sanggau Ledo)
*

Kab. Sambas (Tebas dan Sambas)
*

Kab. Landak (Air Besar)
*

Kab. Ketapang
*

Kab. Pontianak

Dengan skenario optimis diharapkan luas pengembangan perkebunan kelapa sawit hingga tahun 2015 mencapai 450.000 ha, dengan rata-rata penanaman mencapai 30.000 ha/tahun dengan total produksi mencapai 7 juta ton TBS. Sementara dengan penerapan skenario kedua (moderat) ditergetkan hingga 2015 mencapai 250.000 ha dengan rata-rata penanaman 17.000 ha/tahun dengan total produksi 6 juta ton TBS, dan penerapan skenario ketiga (pesimis) tahun 2015 ditargetkan 120.000 ha, dengan rata-rata penanaman 8.000 ha/tahun dengan total produksi mencapai 5 juta ton TBS

2.

Keunggulan
*

Hampir semua hasilnya bermanfaat bagi kehidupan yaitu minyak goreng, margarine, sabun, minyak pelumas, tekstil dan lain-lain
*

Pertumbuhan minyak sawit jauh lebih cepat dengan kadar minyak jauh lebih tinggi dalam setiap hektar dibanding minyak nabati lainnya
*

Memiliki daya substansi yang tinggi, dengan teknologi maju dapat ditampilkan berbagai formulasi untuk industri
*

Permintaan pasar dari tahun ke tahun meningkat
*

Pasar Potensial China, India, dan Pakistan

3.

Sarana dan Prasarana Pendukung
*

Stabilitas keamanan terjamin
*

Bebas dari sengketa tanah
*

Regulasi di bidang perizinan sangat mudah
*

Sarana jalan dari Pusat Ibukota ke centra produksi lancar (Aspal, pengerasan, dan tanah)
*

Jaringan listrik di Desa-desa Kecamatan sudah terpasang, sedangkan penyediaan air bersih dari PDAM baru sampai desa-desa yang berdekatan dengan ibukota Kecamatan
*

Tersedia Koperasi Unit Desa (KUD), Kelompok Tani yang menyebar disetiap Desa
*

Tersedia Bank BRI Cabang Pembantu Sanggau Ledo
*

Tersedia tenaga kerja yang profesional dan potensial di desa-desa transmigrasi
*

Tersedia akomodasi yang memadai

Profil Indonesia

DASAR NEGARA

Pancasila adalah filosofi dasar negara Indonesia yang berasal dari dua kata sansekerta, “panca” artinya lima, dan “sila” artinya dasar. Pancasila terdiri atas lima dasar yang berhubungan dan tidak dapat dipisahkan, adalah :


1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Indonesia merupakan negara demokrasi yang dalam pemerintahannya menganut sistem presidensiil, dan Pancasila ini merupakan jiwa dari demokrasi. Demokrasi yang didasarkan atas lima dasar tersebut dinamakan Demokrasi Pancasila. Dasar negara ini, dinyatakan oleh Presiden Soekarno (Presiden Indonesia yang pertama) dalam Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

POSISI GEOGRAFIS

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau. Indonesia terbentang antara 6 derajat garis lintang utara sampai 11 derajat garis lintang selatan, dan dari 97 derajat sampai 141 derajat garis bujur timur serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia/Oceania. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi.

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Apabila perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi1.9 juta mil persegi,

Lima pulau besar di Indonesia adalah : Sumatera dengan luas 473.606 km persegi, Jawa dengan luas 132.107 km persegi, Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia) dengan luas 539.460 km persegi, Sulawesi dengan luas 189.216 km persegi, dan Papua dengan luas 421.981 km persegi.

SEJARAH GEOLOGI

Pulau-pulau Indonesia terbentuk pada jaman Miocene (12 juta tahun sebelum masehi); Palaeocene ( 70 juta tahun sebelum masehi); Eocene (30 juta tahun sebelum masehi); Oligacene (25 juta tahun sebelum masehi). Sehubungan dengan datangnya orang-orang dari tanah daratan Asia maka Indonesia dipercaya sudah ada pada jaman Pleistocene (4 juta tahun sebelum masehi). Pulau-pulau terbentuk sepanjang garis yang berpengaruh kuat antara perubahan lempengan tektonik Australia dan Pasifik. Lempengan Australia berubah lambat naik kedalam jalan kecil lempeng Pasifik, yang bergerak ke selatan, dan antara garis-garis ini terbentanglah pulau-pulau Indonesia.

Ini membuat Indonesia sebagai salah satu negara yang paling banyak berubah wilayah geologinya di dunia. Pegunungan-pegunungan yang berada di pulau-pulau Indonesia terdiri lebih dari 400 gunung berapi, dimana 100 diantaranya masih aktif. Indonesia mengalami tiga kali getaran dalam sehari, gempa bumi sedikitnya satu kali dalam sehari dan sedikitnya satu kali letusan gunung berapi dalam setahun.

DEMOGRAFI

Penduduk Indonesia dapat dibagi secara garis besar dalam dua kelompok. Di bagian barat Indonesia penduduknya kebanyakan adalah suku Melayu sementara di timur adalah suku Papua, yang mempunyai akar di kepulauan Melanesia. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda atau Batak.

Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas diantaranya adalah Etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke nusantara dengan jalur perdagangan sejak abad ke 8 SM dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 3% populasi etnis Tionghoa. Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930-an terakhir kalinya pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.

Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Sisanya beragama Protestan (8,9%); Katolik (3%); Hindu (1,8%); Buddha (0,8%); dan lain-lain (0,3%).

Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi Indonesia, bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.

POLITIK

Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawatan Rakyat (MPR) yang terdiri dari dua badan yaitu DPR yang anggota-anggotanya terdiri dari wakil-wakil Partai Politik dan DPD yang anggota-anggotanya mewakili provinsi yang ada di Indonesia. Setiap daerah diwakili oleh 4 orang yang dipilih langsung oleh rakyat di daerahnya masing-masing.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah lembaga tertinggi negara. Keanggotaan MPR berubah setelah Amandeman UUD 1945 pada periode 1999-2004. Seluruh anggota MPR adalah anggota DPR ditambah anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan. Anggota MPR saat ini terdiri dari 550 anggota DPR dan 128 anggota DPD. Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik dalam masa jabatan lima tahun. Sejak 2004, MPR adalah sebuah parlemen bikameral, setelah terciptanya DPD sebagai kamar kedua.

Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidenstil sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen.

Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, termasuk pengaturan administrasi para Hakim.

PROVINSI

Indonesia saat ini memiliki 33 provinsi (termasuk 2 Daerah Istimewa (DI) dan satu Daerah Khusus Ibukota (DKI). Kedua DI tersebut adalah Nanggroe Aceh Darussalam dan Daerah Istimewa Yogyakarta sedangkan Daerah Khusus Ibukotanya adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sebelum tahun 1999, Timor Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.

Daftar Provinsi di Indonesia
Sumatra
Nanggroe Aceh Darussalam | Sumatera Utara | Sumatera Barat | Bengkulu | Riau | Kepulauan Riau | Jambi | Sumatera Selatan | Lampung | Kepulauan Bangka Belitung
Jawa
Jakarta | Jawa Barat | Banten | Jawa Tengah | DI Yogyakarta | Jawa Timur
Kalimantan
Kalimantan Barat | Kalimantan Tengah | Kalimantan Selatan | Kalimantan Timur
Nusa Tenggara
Bali | Nusa Tenggara Barat | Nusa Tenggara Timur
Sulawesi
Sulawesi Barat | Sulawesi Utara | Sulawesi Tengah | Sulawesi Selatan | Sulawesi Tenggara | Gorontalo
Kepulauan Maluku dan Papua
Maluku | Maluku Utara | Papua Barat | Papua

EKONOMI

Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu. Ekonominya kini telah lumayan stabil saat ini.

Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga dan emas. Indonesia adalah pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah dan karet.

Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara tetangganya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.

Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan korupsi yang merajalela dalam pemerintah.
Bank sentral Indonesia adalah Bank Indonesia.

SENI BUDAYA

Jenis kesenian di Indonesia banyak dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan. Tari Jawa dan Bali yang terkenal, misalnya, berisi aspek-aspek kebudayaan dan mitologi Hindu.

Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatra seperti tari Saman Meusukat dan Tari Seudati dari Nanggroe Aceh Darussalam.

Selain itu yang cukup terkenal di dunia adalah wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis. Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.

Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Solo, dan juga Pekalongan.

Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya.

Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Musik tradisional termasuk juga keroncong Jawa dikenali oleh hampir semua rakyat Indonesia, namun yang lebih berkuasa dalam paras lagu di Indonesia yaitu seni lagu modern kemudian Dangdut. Dangdut adalah salah satu musik Indonesia yang sudah merakyat di wilayah Nusantara, yang dipadu dari unsur musik Melayu, India, dan juga musik tradisional Indonesia. Dinamakan Dangdut karena suara musik yang terdengar adalah suara 'dang' dan 'dut' dan musik Dangdut lebih dikuasai oleh suara gendang dan suling. Lagu-lagu dangdut biasanya didendangkan oleh pedangdut dengan goyangannya yang seronok dan lemah gemulai yang disesuaikan dengan tempo lagunya. Ada berbagai macam corak musik Dangdut, antara lain Dangdut Melayu, Dangdut Modern (Dangdut masa kini yang alat musiknya telah ditambah dengan alat musik modern); dan Dangdut Pesisir (Lagu dangdut tradisional Jawa, Sunda, dll). Pada tahun 70-an, dangdut lebih dikenal sebagai aliran musik orkes Melayu, yang kemudian pada awal tahun 80-an ia lebih dikenal dengan sebutan Dangdut.

Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, agama serta kepercayaan yang berbeda. Ada Batak, Karo, Minangkabau, Melayu di Sumatra dan sebagainya. Ada banyak agama yang diakui di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha bahkan kini Kepercayaan Konghucu juga diakui. Namun sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih Islam sebagai agamanya.

Total pageviews bulan ini