Selamat Datang di Web Blog Purna Praja STPDN/IPDN Kabupaten Ketapang
Showing posts with label STPDN dan Purna Praja. Show all posts
Showing posts with label STPDN dan Purna Praja. Show all posts

02 February 2011

Inu Kencana: Rinra Diduga Overdosis


Apa penyebab putra bungsu Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Nindya Praja Rinra Sujiwa Syahrul Putra (19) meninggal, hingga saat ini belum diketahui. Namun mantan dosen Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Inu Kencana mengungkap bahwa penyebab kematian Rinra diduga karena overdosis. Baca selengkapnya

01 February 2011

Munas Asosiasi Perguruan Tinggi Kedinasan Indonesia di Kampus IPDN Cilandak

Cilandak, 20 Januari 2010) Dalam rangka memantapkan kedudukan dan peranan Pendidikan Tinggi Kedinasan dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, Asosisasi Pendidikan Tinggi Kedinasan Indonesia (APTKI) pada tanggal 20 Januari 2011 bertempat di Aula Zamhir Islamie Kampus IPDN Cilandak telah digelar Musyawarah Nasional APTKI dengan tema "Perguruan Tinggi Kedinasan Merupakan Bagian Tidak Terpisahkan dari Pendidikan Kedinasan". Baca selengkapnya klik disini

Nindya Praja meninggal dunia

Praja IPDN Anak Gubernur Sulsel Dikabarkan Meninggal. Informasi selengkapnya klik disini.

07 June 2009

REUNI PURNA PRAJA 09


Reuni Purna Praja 09

"Sewindu Pelaksanaan Tugas Purna 09"

Pelaksanaan
08-11 Oktober 2009
Tempat Ksatrian Jatinangor

Contact person
Budi Awaludin (081931700054/0817138806)
Cheka Virgowansyah (08153911011)
Wahid I (081321999690)
Asep aang R (0811129151)
Sondang (08128552801)

21 December 2008

PENGUKUHAN GURU BESAR IPDN

Sabtu, 15 Nopember 2008 bertempat di Aula IPDN Kampus Cilandak Jakarta, dilaksanakan Prosesi Pengukuhan Guru Besar IPDN oleh Menteri Dalam Negeri, yaitu :
1. Prof.Dr.Nurul Aini,MA
2. Prof.Dr.H.Djohermansyah,MA
3. Prof.Dr.Lexie M.Giroth,S.IP,M.Si

Ibu Rektor IPDN Prof.Dr.Ngadisah,MA memimpin jalannya Sidang Terbuka Senat IPDN tersebut, sedangkan Menteri Dalam Negeri diwakili oleh Staf Khususnya yaitu Prof.Dr.I Nyoman Sumaryadi,M.Si
Saat ini tampak para undangan telah memasuki ruangan aula, baik dari kalangan pejabat struktural lingkup Departemen Dalam Negeri juga kegiatan ini dihadiri civitas akedimika IPDN. Dalam prosesi pengukuhan Guru Besar IPDN ini, akan diiringi oleh Paduan Suara Praja IPDN dari Kampus Jatinangor.

Tepat pukul 09.30 WIB, Pimpinan Senat IPDN memasuki aula prosesi pengukuhan. Pengukuhan ini langsung dipimpin oleh Pimpinan Senat IPDN, yaitu Prof.Dr.Ngadisah,MA, didampingi oleh anggota senat IPDN lainnya. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembukaan sidang senat oleh pimpinan sidang senat IPDN.

Berikutnya pembacaan Surat Keputusan , Pendidikan Nasional RI tentang Pengangkatan Guru Besar di Lingkungan IPDN, yang dibacakan oleh Sekretaris Senat IPDN, yaitu Prof.Dr.Tjahya Supriatna,SU, sebagai berikut :

1. Sejak 01 April 2004, mengangkat Prof.Dr.Nurul Aini,MA sebagai Guru Besar IPDN bidang Sistem Politik Pemerintahan di Indonesia

2. Sejak 01 Mei 2005, mengangkat Prof.Dr.Djohermansyah,MA sebagai Guru Besar IPDN bidang Ilmu Media Politik, Perbandingan Pemerintahan dan Kebijakan Publik.

3. Sejak 01 Juli 2007, mengangkat Prof.Dr.Lexie M.Giroth,S.IP,M.Si sebagai Guru Besar IPDN bidang Ilmu Studi Kebijakan.


Acara selanjutnya adalah mendengarkan orasi ilmiah Guru Besar yang akan dikukuhkan, yaitu :

Prof.Dr.Nurul Aini,MA :

Untuk mewujudkan tujuan negara, diperlukan sistem politik yang handal, yaitu sistem politik yang di dalamnya terdapat keseimbangan antara infra dan supra struktur, sehingga kepentingan kedua belah pihak dapat dipertemukan. Paling tidak benturan-benturan dapat dikurangi atau kalau mungkin dihindari. Caranya adalah dengan melakukan pembangunan politik atau modernisasi politik.

Dalam proses pembangunan politik dapat ditentukan 3 ciri pokok, yaitu:

Pertama, Peningkatan pemusatan kekuasaan pada negara yang dibarengi dengan melemahnya sumber-sumber wewenang kekuasaan tradisional.

Kedua, diferensiasi dan spesialisasi lembaga-lembaga politik.

Ketiga, Peningkatan partisipasi politik masyarakat.

(selengkapnya orasi ilmiah Prof.Dr.Nurul Aini,MA, akan kami buatkan filenya dalam bentuk pdf, mohon bersabar)

Prof.Dr.H.Djohermansyah,MA :

Sepuluh tahun telah berlalu sejak reformasi digulirkan, tetapi formulasinya terasa masih belum pas dan lebih-lebih lagi implementasi desentralisasi tampak masih belum lancar, sehinga terkadang menyulitkan dan membingungkan banyak orang. Bahkan dalam hal tertentu membuat pimpinan Departemen Dalam Negeri harus berimprovisasi mencari solusi. Misalnya dalam perkara pengangkatan Gubernur Maluku Utara, pemekaran Propinsi di Tanah Papua dan kedudukan keuangan anggota/pimpinan DPRD.

Memang tidak ada jalan mudah untuk membangun pemerintahan daerah bersendikan demokrasi, no pain no gain. Lebih-lebih di negeri kepulauan seperti Indonesia yang wilayahnya sangat luas, penduduknya ratusan juta dengan budaya multikultural, lemahnya aturan konstitusional, dan selama tiga dasawarsa terakhir menerapkan sistem otoritarian dan sentralisasi.

(selengkapnya orasi ilmiah Prof.Dr.H.Djohermanysah,MA, akan kami buatkan filenya dalam bentuk pdf, mohon bersabar)

Prof.Dr.Lexie M.Giroth,S.IP,M.Si

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang membentuk Negara Republik Indonesia melalui proklamasi kemerdekaan, bentukan yang dilakukan seperti itu merupakan salah satu dari banyak cara untuk membentuk negara, yang dengan demikian warga bangsa itu adalah kekuasaan yang tertinggi atau pemegang kedaulatan atas (sovereignity) dan pemilik negara. Pilihan tragis pada semua kebijakan melibatkan pilihan nilai dan penetapan rata-rata, pertukaran antara nilai-nilai terdekat.


Adapun dimensi pilihan tragis meliputi sejumlah masalah sulit, yaitu :

1. Peran profesional yang sesuai tanpa bertentangan dengan proses penilaian nilainya ;

2. Meningkatkan kemampuan sistem pembuatan kebijakan untuk mengaitkan dalam pilihan nilai tanpa gangguan konsensus yang menjadi penghalang ;

3. Desain untuk menyeertakan strata tambahan, seperti kelompok yang dilibatkan atau publik dalam pilihan nilai tanpa merusak kualitas kebijakan.

(selengkapnya orasi ilmiah Prof.Dr.Lexie M.Giroth,S.IP,M.Si, akan kami buatkan filenya dalam bentuk pdf, mohon bersabar)

Selanjutnya, Sambutan Menteri Dalam Negeri, yang dibacakan oleh Staf Khusus Menteri Dalam Negeri, Prof.Dr.I Nyoman Sumaryadi,M.Si, mengatakan bahwa :

Jabatan Guru Besar merupakan jabatan Profesionalisasi akademik, yaitu orang yang menjalankan perjalanan penting tentang penganjur paham, baik individu, pengembangan batas dan minat para pendidik. Seperti tenaga pendidikan dan pengangkatan sbg peningkatan upaya peran memberikan pencerahan, sumbangsih, analisis kebijakan dan anjuran kebijakan. Kualitas tenaga pendidik si lingkungan IPDN tentunya saya dukung, harapannya kualitas lulusan ipdn dapat terwuud. Profesionalisasi dan lulusan menjadi penting untuk diperhatikan, krn saat ini lokasi pendidikan akan berkembang secara regional dengan harapan pembelajaran manajemen pendidikan dalam satu kesatuan sistem yang ada di jatinangor.

Penentuan regiional tersebut sesuai jurusan yang ada di IPDN. Oleh karena itu IPDN harus melakukan penyesuaian khususnya dalam hal kurikulum, yaitu :

1. Ilmu pemerintahan, konten pembelajaran disajikan secara fliksibel dan terbuka terhadap perubahan

2. Kemampuan berpikir dan kreatif, suskses dan bekerja serta belajar

3. Mampu mengunakan ilmu pengetahuan yang dioeroleh untuk digunakan dan tempat dan situasi yg berbeda

Oleh karena itu, lulusan IPDN diharkan melahirkan pemimpin yang :

1. Berpikir kreatif

2. Bertanggungjawab

3. Berani mengambil resiko

4. Mempunyai keluhuran budi

5. Senang melakukan persahabatan

6. Memiliki disiplin yang bagus

Untuk itu Menteri Dalam Negeri berpesan kepada tenaga pendidik di di lingkungankan Departemen Dalam Negeri, yaitu :

1. Pengajar pelatih dan pengasuh harus flikseibel terbuka

2. Fasilitasor harus berani berdialog terbuka dan menerima saran dan kritikab dari mahasiswa dan praja

3. Penilaian hasil belajar bukanlah kegiatan indefenden dari proses pembelajaran

Sehingga akan menghasilkan mahasiswa dan Praja IPDN sebagai berikut :

1. Pamong Praja memiliki kelurhan budi dan hati nurasi yang bersih,

2. Pesahabatan yang tinggi

3. Kedisiplinan

4. Memiliki kesabaran baik prosesnya, maupun langsung kesabaran itu sendiri.

Kemudian, acara diakhir dengan pernyataan penutupan oleh Pimpinan Sidang Senat IPDN Prof.Ngadisah, dan acara pengukuhan ini diakhiri dengan ucapan selamat kepada Profersor yang baru dikukuhkan.

GUBERNUR SUMATERA BARAT RESMIKAN IPDN BASO

Setelah disetujui oleh Menteri Dalam Negeri pembentukan Kampus IPDN selain di Jatinangor Provinsi Jawa Barat dengan pembentukan Kampus Regional pada 3 (tiga) Provinsi di Indonesia, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Riau dan Sumatera Barat
maka pada tanggal 12 Januari 2009 sebagai momentum terwujudnya keinginan masyarakat Sumatera Barat untuk terbentuknya IPDN di Baso dan diresmikan dalam suatu upacara dengan Inspektur Upacara Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi dan komandan upacara Camat Canduang Kabupaten Agam.

Untuk melengkapi sarana dan prasarana Kampus IPDN di Baso, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah menganggarkan dana dalam APBD sebesar Rp. 10 Miliar, sehingga diharapkan para praja merasa nyaman dalam mengikuti studi di kampus ini. Terbentuknya Kampus IPDN di Baso, Gubernur Sumatera Barat mengharapkan terhadap praja Islam yang mengikuti pendidikan di Kampus ini dapat mengisi pengajian seperti khotbah dan secara keseluruhan praja IPDN Baso diharapkan mempunyai kemampuan bahasa Inggeris dengan TOEFL minimal 450. Dalam proses pembelajaran di Kampus IPDN Baso, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengusulkan diberikan program studi muatan lokal bagi praja, agar praja bersangkutan dapat lebih mengenal daerah tempat mereka belajar serta membangun rasa kebangsaan dan nasionalisme. Setelah acara peresmian Gubernur Sumatera Barat memberikan kuliah umum kepada praja IPDN Baso yang berjumlah 100 orang yang berasal dari beberapa Provinsi di Indonesia.

Institut Pemerintahan Dalam Negeri Regional Baso diresmikan

Penantian masyarakat Sumatera Barat untuk terlaksananya Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Daerah ini akhirnya terwujud. Setelah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memperjuangkan untuk dapat terlaksananya pendidikan dinas kepamongan di Sumatera Barat, maka Menteri Dalam Negeri setelah melakukan beberapa kali survei dapat mengabulkan untuk dilaksanakannya Institut Pemerintahan Dalam Negeri Regional untuk studi jurusan Manajemen Keuangan Daerah bertempat dalam kawasan Badan Diklat Departemen Dalam Negeri Regional Baso, dan diresmikan serta kuliah perdana pada tanggal 12 Januari 2009.

Menurut Koordinator Kepamongan Praja Drs. Baharuddin, tahap awal perkuliahan di Kampus IPDN Regional Baso akan diisi oleh 100 orang Praja yang berasal dari beberapa daerah, antara lain dari Provinsi Bangka Belitung 2 orang, Bali 2 orang, Banten 2 orang, Bengkulu 2 orang, DKI Jakarta 1 orang, Gorontalo 1 orang, Jawa Barat 6 orang, Jambi 2 orang, Jawa Tengah 7 orang, Jawa Timur 7 orang, Kalimantan Barat 3 orang, Kalimantan Selatan 3 orang, Kalimantan Tengah 3 orang, Kalimantan Timur 3 orang, Kepulauan Riau 2 orang, Lampung 2 orang, Maluku 2 orang, Maluku Utara 2 orang, Nanggroe Aceh Darusalam 5 orang, NTB 2 orang, NTT 4 orang, Papua 6 orang, Papua Barat 2 orang, Riau 3 orang, Sulawesi Barat 1 orang, Sulawesi Selatan 5 orang, Sulawesi Tengah 2 orang, Sulawesi Tenggara 2 orang, Sulawesi Utara 4 orang, Sumatera Selatan 3 orang, Sumatera Utara 6 orang dan Provinsi Sumatera Barat sebanyak 4 orang.

Dalam pelaksanaan proses belajar dan mengajar di Kampus IPDN Regional Baso, Koordinator Akademik Drs. Sayuti, M.Sip, mengatakan telah dilakukan kerjasama berupa MOU dengan 11 orang tenaga pengajar dari Universitas Andalas Padang, sedangkan untuk kegiatan perkuliahan dan pelatihan, mata kuliah wajib IPDN Regional Baso melibatkan tenaga pengajar dari Perguruan Tinggi Negeri di Sumatera Barat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

24 November 2008

Penganugerahan Pamong Award 2008

dalam rangka Temu nasional Pamong II tahun 2008, dilaksanakan Malam Penganugerahan Pamong Award 2008. Sebelum pelaksanaan penyerahaan Pamong Award tersebut, dilaksanakan Makan Malam Bersama Peserta Temu Nasional Pamong dengan Bapak Menteri Dalam Negeri H. Mardiyanto.

Diskusi Interaktif Pemerintahan

Dalam rangka Temu Nasional Pamong tahun 2008, dilaksanakan Diskusi Interaktif Pemerintahan dengan tema "Strategi Reformasi Birokrasi" di Ballroom Hotel millenium Jakarta, yang menghadirkan pembicara sebagai berikut :
1. Ferry Mursidan (Anggota DPR)
2. Karel Albert (Gubernur Maluku)
3. Eko Soesamto (KPK)
4. Arbi Sanit (Pengamat Pemerintahan)
5. Abdullah Hich (Bupati Tanjung Jabung)
Acara diskusi ini dipandu oleh dr.Lulu Kamal

Temu Nasional Pamong (TNP) II Tahun 2008

Pada hari Senin-Rabu, 17 s/d 19 Nopember 2008, di Hotel Millinium Sirih Jakarta Pusat
berlangsung kegiatan Temu Nasional Pamong (TNP) II tahun 2008.

18 October 2008

Mendagri Lantik Rektor IPDN


SUMEDANG: Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto melantik Prof Dr Ngadisah MA sebagai rektor baru Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di kampus perguruan tinggi itu di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (16/10).


Dalam sambutannya Mendagri mengatakan berdasarkan Keputusan Presiden nomor 109/M Tahun 2008, pihaknya menetapkan rektor baru untuk menggantikan Pelaksana Tugas (Plt) Johanis Kalloh.

"Acara ini merupakan tindak lanjut dari Kepres 2008 tentang pengangkatan rektor IPDN. Sehingga pelaksanaannya terkait dengan implementasi aspek dan status IPDN," katanya.

Ia menjelaskan, aspek dan status IPDN harus mengacu pada undang-undang sistem pendidikan nasional yang sesuai dengan norma dan kepamongprajaan. Untuk itu, faktor penunjang kegiatan belajar mengajar, terutama sarana penunjang, seperti perpustakaan dan fasilitas akomodasi harus dipersiapkan secara menyeluruh untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Peningkatan itu, menurut Mendagri, juga harus ditunjang dengan struktur organisasi IPDN yang efektif, efisien, rasional, sesuai perkembangan pendidikan global.

"Pengelolaan IPDN baik pengajarnya, pengasuh maupun praja dalam setiap angkatan harus seimbang sehingga menghasilkan kualitas tinggi," ujarnya.

Oleh karena itu, jelas Mardiyanto, pengembangan lembaga IPDN dapat diselesaikan. Termasuk, peraturan Kepres 87/2008 tentang STPDN ke dalam IPDN, sehingga dapat menjadikan citra yang positif kepada pamong yang berkualitas.

Selain itu, lanjutnya, eksistensi pengembangan IPDN dapat menjadi sarana pendidikan yang lebih baik lagi di
Indonesia. "Sehingga dapat menjadi institusi negara yang berkepribadian tinggi seperti TNI, Militer, AU, AD, Akpol," ucapnya.

Ia juga mengatakan, dalam kepemimpinan rektor yang baru, pihaknya berharap semua praja dapat ikut menjaga sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya yang positif. "Budaya kekerasan harus dihilangkan karena tidak diperlukan lagi dalam sistem pendidikan sekarang ini. Tunjukan kepada masyarakat sesuai dengan sikap keteladanan akademis," kata Mendagri.

Dengan demikian, katanya, segala hubungan antara pengajar dan praja dapat ditingkatkan di dalam proses belajar mengajar sehingga menciptakan situasi yang baik, tertib dan aman. Sebab, hubungan baik dapat dibina dengan menghindari segala bentuk tindakan yang tidak terpuji.

Mendagri berharap proses pendidikan yang cukup lama (empat tahun) itu, dapat mendidik para praja sehingga dapat bekerja sebagai pamong praja di dalam masyarakat dengan baik.

"Mudah-mudahan apa yang telah diberikan kepada praja selama ini dapat menciptakan kepribadian yang baik dan berada di jalan yang benar untuk memajukan nusa dan bangsa," katanya.

sumber : depdagri online

IPDN Segera Miliki Rektor Baru


Setelah beberapa tahun dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt) Rektor, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat akan memiliki rektor baru, yakni Prof Dr Ngadisah MA.

IPDN Kelebihan Kapasitas 2000 Siswa

Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Prof Ngadisah MA akan melakukan penataan struktur dan infrastruktur kampus yang saat ini tengah mengalami kelebihan kapasitas sebanyak 2000 siswa.

16 October 2008

SEJARAH PENDIDIKAN PAMONG PRAJA DI INDONESIA

Sekolah kepamongprajaan di Indonesia telah ada semenjak Pemerintahan Hindia Belanda, itupun tidak semua orang dapat bersekolah di sekolah ini . hanya orang-orang dari kalangan tertentu saja yang dapat bersekolah disana.



Sekolah kepamongprajaan di Indonesia telah ada semenjak Pemerintahan Hindia Belanda, itupun tidak semua orang dapat bersekolah di sekolah ini . hanya orang-orang dari kalangan tertentu saja yang dapat bersekolah disana.

Indonesia telah dijajah Belanda sekitar 3,5 abad lamanya & selama Pemerintahan Hindia Belanda berkuasa di Indonesia, pada saat itu Pemerintahan Hindia Belanda memerlukan banyak orang orang pribumi untuk dijadikan pegawai pemerintahan .Oleh karena itu, pemerintahan Hindi Belanda mendirikan Perguruan Tinggi untuk mendidik para pegawai pribumi pada masa kekuasaannya di Indonesia.

Berdirinya perguruan Tinggi di nusantara memerlukan waktu yang cukup lama, dengan kata lain pemerintahan Hindia Belanda pada saat itu tidak langsung mendirikan lembaga pendidikan tersebut (Perguruan Tinggi). Awalnya pemerintahan Hindia Belanda untuk kali pertamanya mendirikan semacam sekolah tingkat dasar..

Sekitar abad -19, pemerintahan colonial Hindia Belanda mulai berusaha menigkatkan pendidikan di Hindia Belanda. Tepatnya pada tahun 1845 gubernur jenderal J.C. Baud mengusulkan untuk mendirikan lembaga pendidikan bagi kalangan elit penduduk pribumi yang kemudian baru menjadi kenyataan beberapa tahun sesudahnya. Tahun 1852, pemerintahan Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk guru pribumi (kweekschollen) dan satu sekolah kedokteran (Dokter Jawa-schollen). Karena baru ada 20 sekolah dasar untuk anak-anak pribumi, pada umumnya yang dapat memasuki lembaga pendidikan di atas hanyalah mereka yang telah menerima pelajaran privat dari guru-guru Belanda atau mereka yang telah europeese lugere school (SD Eropa) di Hindia Belanda. Setelah itu tahun 1864, membuka pintu bagi anak-anak pribumi untuk belajar di lembaga pendidikan tersebut.

Dalam sejarah pendidikan pamong praja, pendidikan pamong praja pada jaman Hindia Belanda dikenal nama sekolah dengan nama seperti OSVIA, MOSVIA, dan MBS.

Pada mulanya, pemerintahan Hindia Belanda membangun perguruan tinggi pertama di Indonesia yang berada di pulau Jawa. Pada tahun 1878, telah didirikan sekolah pimpinan pemerintahan (Hoofden-schollen). Pada mulanya sekolah ini hanya diperuntukan bagi anak-anak kaum bangsawan (elite) tetapi kemudian menjadi lembaga pendidikan para pegawai pemerintahan pribumi atau ambtenar yang pada masa itu lebih dikenal sebagai sekolah pangreh praja dan hanya mendapat akreditas A saja.

Pada tahun 1879 di Bandung, pemerintahan Hindia Belanda mendirikan Opleidings-school Voor Indlandsche ambtenaren (OSVIA) yang pendidikannya selama lima tahun. Saat itu kalangan penduduk pribumi menyebutnya sebagai “Sukola Menak” maklum, murid sekolah itu adalah anak para priyayi sepeti bupati, patih dan wedana. Murid OSVIA adalah lulusan sekolah dasar atau disebut juga HIS. Setelah OSVIA, Belanda juga kemudian membuka Middlebare Besture School atau MBS yang bertempat di kota Malang-Jatim.

Indonesia adalah Negara yang beraneka ragam dan berkepulauan. Budaya yang bermacam-macam dengan adapt masing-masing membuat Negara ini memiliki kebudayaan nasional yang tinggi.

Pemimpin-pemimpin daerah sangat dibutuhkan demi kemajuan daerah masing-masing dan untuk menciptakan kader pemerintahan yang mempunyai pendidikan ilmu pemerintahan ditambah dengan pengalaman dalam praktek kepemimpinan pemerintahan dan sebagai kebutuhan bangsa Indonesia sendiri, kemudian tepatnya tanggal 1 Maret 1956 di Malang Jatim berdasarkan SK Mendagri No. Pend. 1/20/565 tanggal 24 September 1956 didirikanlah pertama kali sekolah kepamongprajaan secara rsmi oleh Depdagri yaitu Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) dengan direktur pertamanya Dr. Raspio Woerjadiningrat yang diresmikan oleh presiden RI Ir. Soekarno. Dan karena belum ada yang menampung untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi setelah lulus dari APDN maka perlu pengisian aparatur pemerintahan pusat dan daerah yang memiliki ilmu pemerintahan yang modern dan professional, oleh karena itu tanggal 25 Mei 1967 APDN diubah menjadi Institut Ilmu Pemerintahan ( IIP ) yang pada akhirnya IIP malang dipindahkan ke Jakarta pada tahun 1971.

Kebutuhan akan tenaga aparatur pemerintahan tiap daerah sangat pesat, maka sejak tahun 1965 satu demi satu didirikan APDN diberbagai provinsi dan pada tahun 1970 telah berdiri APDN diseluruh nusantara dengan lokasi sebagai berikut, Banda Aceh, Medan, Bukit tinggi, Pekan baru, Jambi, Palembang, Tanjung karang, Bandung, Semarang, Malang, Mataram, Kupang, Ujung Pandang, Menado, Pontianak, Banjar masin, Palangkaraya, Samarinda, Ambon dan Jayapura. Namun ternyata kehadiran APDN di dua puluh provinsi mengundang banyak kontroversi dari berbagai kalangan, di mana muncul anggapan bahwa kualitas dan profesionalisme lulusan APDN daerah tidak merata dan tidak seimbang diakibatkan tidak samanya kualitas pendidik dan tideak meratanya sarana dan prasarana pendukung bagi pelaksanaan pendidikan kedinasan. Sampai dengan tahun 1991 yaitu tahun alumnus terakhir dan berakhirnya opereasi APDN dinusantara telah menghasilkan 27710 alumnus APDN yang penempatannya tersebar di 27 provinsi dan untuk menyamakan pola pendidikan APDN dikeluarkanlah Kep Mendagri No. 38 Tahun 1988 tentang pembentukan APDN yang bersifat nasional yang dipusatkan di Jatinangor, Sumedang, jawa barat.
sumber : pamongpraja.com

Total pageviews bulan ini